Ketahan Pangan Tahun 2025 dari Dana Desa
ANALISA HASIL MONITORING DAN EVALUASI (MONEV)
BUMKal “NGUDI RAHARJO” Kalurahan Kemejing Kapanewon Semin
Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan program ketahanan pangan pada BUMKal “NGUDI RAHARJO”, terdapat beberapa kendala dan permasalahan yang perlu menjadi perhatian guna mendukung keberlanjutan usaha peternakan ayam petelur dan penggemukan sapi. Secara umum usaha yang dijalankan memiliki potensi berkembang karena telah memiliki pasar dan pelanggan tetap, namun masih diperlukan penguatan pada aspek manajemen usaha, pengendalian risiko, dan tata kelola administrasi. Adapun analisa hasil monev sebagai berikut:
1. Harga Bahan Baku Pakan Ayam Tidak Stabil
Fluktuasi harga bahan baku pakan ayam menyebabkan biaya operasional usaha menjadi tidak stabil dan anggaran sulit dikendalikan. Kondisi ini berdampak langsung terhadap keuntungan usaha karena biaya produksi meningkat sementara harga jual telur mengikuti harga pasar yang berubah-ubah.
2. Gangguan Hewan Liar pada Lokasi Ternak Ayam
Adanya gangguan hewan liar yang mengakibatkan beberapa ayam mati menunjukkan sistem keamanan kandang dan perlindungan ternak masih belum optimal. Hal ini menimbulkan kerugian usaha dan berpotensi mengganggu produktivitas peternakan ayam petelur.
3. Harga Penjualan Telur Mengikuti Harga Pasar
Harga telur yang relatif mengikuti harga pasar menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga kestabilan keuntungan usaha. Namun demikian, keberadaan pelanggan tetap seperti Pamela Swalayan dan Alfamart menjadi potensi positif karena memberikan kepastian pasar dan membantu keberlangsungan pemasaran hasil produksi.
4. Manajemen Pengelolaan Sapi Penggemukan dan Peluang Pasar
Pengelolaan usaha penggemukan sapi masih memerlukan penguatan dalam aspek manajemen usaha, mulai dari pola pemeliharaan, perencanaan usaha, hingga strategi pemasaran. Peluang pasar sebenarnya cukup terbuka, namun belum dimanfaatkan secara maksimal melalui perencanaan bisnis yang lebih baik.
5. Sistem Penggemukan Sapi Masih Tradisional
Metode penggemukan sapi masih dilakukan secara tradisional, baik dari pola pemberian pakan, sanitasi kandang, maupun pemantauan pertumbuhan ternak. Kondisi ini menyebabkan efisiensi usaha dan peningkatan bobot ternak belum optimal.
6. Dokumen Status Tanah Belum Lengkap
Belum lengkapnya dokumen terkait status tanah usaha menjadi catatan penting dalam aspek legalitas dan keberlanjutan usaha. Kepastian hukum terhadap aset usaha sangat diperlukan untuk mendukung pengembangan usaha BUMKal ke depan.
REKOMENDASI
Berdasarkan hasil analisa tersebut, beberapa langkah rekomendasi yang dapat dilakukan guna mendukung keberlanjutan program ketahanan pangan adalah sebagai berikut:
1. Pengendalian Biaya Pakan dan Efisiensi Usaha
Melakukan perencanaan kebutuhan pakan secara berkala.
Mencari alternatif bahan pakan lokal yang lebih ekonomis tanpa mengurangi kualitas produksi.
Menjalin kerja sama dengan supplier pakan untuk memperoleh harga yang lebih stabil.
2. Penguatan Sistem Keamanan Kandang
Memperbaiki sistem kandang agar lebih aman dari gangguan hewan liar.
Menambah pagar pengaman dan sistem perlindungan ternak.
Melakukan pengawasan rutin terhadap kondisi kandang dan lingkungan sekitar.
3. Penguatan Jaringan Pemasaran Telur
Mempertahankan kerja sama dengan pelanggan tetap seperti Pamela Swalayan dan Alfamart.
Mengembangkan jaringan pemasaran ke toko, pasar lokal, dan pelaku usaha lainnya.
Menyusun strategi pemasaran dan distribusi yang lebih terencana.
4. Peningkatan Manajemen Penggemukan Sapi
Menyusun perencanaan usaha penggemukan sapi secara lebih sistematis.
Membuat pencatatan perkembangan ternak dan biaya operasional secara rutin.
Mengembangkan analisa peluang pasar untuk meningkatkan keuntungan usaha.
5. Modernisasi Sistem Penggemukan Sapi
Meningkatkan kualitas pakan dan pola pemeliharaan ternak.
Menerapkan sistem penggemukan yang lebih efektif dan efisien.
Melakukan pendampingan teknis peternakan melalui kerja sama dengan tenaga ahli atau dinas terkait.
6. Melengkapi Dokumen Legalitas Tanah
Segera melengkapi dokumen status tanah yang digunakan untuk usaha peternakan.
Menyimpan seluruh dokumen legalitas dalam administrasi kelembagaan BUMKal sebagai bentuk tertib administrasi.
KESIMPULAN
Secara umum, program ketahanan pangan pada BUMKal “NGUDI RAHARJO” memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan karena telah memiliki usaha produktif dan dukungan pasar tetap dalam penjualan telur. Namun demikian, masih diperlukan penguatan dalam aspek pengendalian biaya produksi, keamanan usaha, manajemen peternakan, modernisasi sistem penggemukan sapi, serta legalitas aset usaha.
Dengan adanya pembenahan tata kelola usaha, peningkatan kapasitas pengelola, penguatan jaringan pemasaran, dan pendampingan teknis secara berkelanjutan, diharapkan usaha peternakan ayam petelur dan penggemukan sapi dapat berkembang lebih optimal, efisien, dan berkelanjutan sehingga mampu meningkatkan pendapatan BUMKal serta kesejahteraan masyarakat Kalurahan Kemejing.
